Tips Memilih Sepatu Lari Yang Pas Agar Tak Cedera

  • -

Tips Memilih Sepatu Lari Yang Pas Agar Tak Cedera

Category : News

Memilih sepatu lari bukan hal sembarangan. Bukan sekadar memilih warna dan merek yang sesuai keinginan hati. Terutama bagi mereka yang aktif berlari minimal seminggu sekali.

Ancaman cedera pun membayangi jika salah mengidentifikasi sepatu yang sesuai dengan pola menjejakkan kaki ke tanah (footstrike).

Footstrike sendiri bisa berbeda dari satu pelari ke pelari lainnya. Ada yang lebih sering menjejakkan tumit (heel) kaki terlebih dahulu, dan ada yang menggunakan seluruh penampang kaki sebagai topangan.

Perbedaan gaya ini lah yang harus diantisipasi seorang pelari agar tak menerima cedera. Untuk itu, ahli berpendapat bahwa jenis sepatu yang tepat sangat diperlukan dalam berlari.

Namun, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pelatihan Atletik mengindikasikan bahwa para pelari, khususnya mereka yang mengenakan sepatu minimalis, atau sepatu yang fleksibel dan memiliki fitur pendukung yang minimalis, belum tentu mampu mengidentifikasi pola footstrike mereka sendiri.

Riset yang sama menunjukkan bahwa seorang pelari yang mengenakan sepatu minimalis seringkali salah melakukan teknik mendaratkan kaki ke tanah.

Lebih dari 90 persen dari para pelari dalam penelitian tersebut yang mengenakan sepatu tradisional lari dengan benar bisa mengidentifikasi pola pijakan kaki mereka. Sementara yang mengenakan sepatu minimalis, hanya 57,5 persen yang mampu melakukannya.

Hal ini menjadi penting karena berbagai macam teknik dan perangkat pendukung lari hanya akan bermanfaat jika seseorang dapat dengan tepat mengidentifikasi pola pijakan.

Selain itu, sebagaimana disebutkan sebelumnya, seorang pelari pun mesti mengantisipasi risiko cedera.

Ahli penyakit kaki dari Atlanta, Perry Julien, mengestimasi bahwa 20 persen orang datang ke kantornya karena cedera yang disebabkan sepatu mereka. “Entah karena usang atau (sepatu) mereka tidak sesuai dengan bentuk kaki.

“Sepatu lari tidak bertahan selamanya,” katanya seperti yang dikutip dari situs CNN.

Dokter tersebut merekomendasikan kepada atlet agar tetap memperhatikan jarak tempuh berlari dan mengganti sepatu latihan mereka setiap km hingga 800 km.

Hal ini berarti seorang pelari aktif harus mengganti sepatunya dalam jangka waktu minimum enam bulan setelah pembelian.

“Tanggal yang pasti, atau seberapa jauh banyak Anda berlari itu jauh lebih baik daripada mengira-ngira kondisi sepatu dengan cara melihatnya,” ucapnya.

Julien mengatakan kepada para pasiennya untuk membeli sepatu lari dari toko dengan penjual yang berpengalaman, yang dapat membantu menentukan gaya dari sepatu dengan kaki seseorang. Ia juga menyarankan untuk membeli sepatu lari dengan ukuran satu setengah lebih besar dari sepatu sehari-hari.

Untuk kaus kaki, pastikan mengenakan kaus kaki dengan ketebalan yang sama. Selain itu, Julien mengatakan kaus kaki berbahan katun dapat menyebabkan lecet.

Julien juga menyarankan agar para pelari tidak langsung mengenakan sepatu baru untuk berlari, demi menghindari lecet terhadap kaki. “Anda harus memakainya berjalan selama beberapa hari.

“Biarkan mereka longgar perlahan, dan kemudian mulai berlari beberapa mil (jarak pendek),” ujarnya.¬†(vws)

Sumber : cnnindonesia.com